Seorang guru agama hindu yang telah lanjut usia
merasa lelah terus menerus mendengar keluhan
salah seorang muridnya.
Suatu pagi hari, ia menyuruh muridnya membawa garam.
setelah murid yang tidak bahagia itu kembali,
ia memerintahkannya untuk melarutkan garam kedalam satu gelas air
kemudian meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya sang Guru.
"Tidak enak," jawab sang murid sambil meludahkannya ke samping.
Sang guru tertawa kecil lalu memrintahkannya untuk mengambil
segenggam garam. Kemudian orang itu berjalan menuju telaga
yang tidak jauh letaknya. Sang Guru memerintah sang murid
untuk menaruh garam itu ditelaga dan mengaduknya.
"Nah,sekarang minumlah air telaga ini!" kata sang Guru.
Setelah ia minum air telaga, gurunya bertanya,
"Bagaimana rasanya?".
"Segar," jawab sang murid.
"Apakah kau mendapati rasa garam di air itu? tanya gurunya.
"Tidak." jawab sang murid.
Sampai disini, sang guru duduk disebelah anak muda yang serius ini
yang mengingatkannya pada masa mudanya dulu.
Ia memegang tangan muridnya lalu berkata,
"Pahitnya kehidupan seperti pengaruh garam ini, tidak lebih tidak kurang.
Besar kecilnya penderitaan tergantung pada wadah di mana kita meletakkannya.
Jadi, bila kau menderita, satu-satunya yang dapat kau perbuat
adalah MELAPANGKAN DADAMU.
Berhentilah menjadi gelas,jadilah kau telaga.
Senin, 04 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar